Yuhuuuu.....
Kali ini saya kedatangan teman SMA saya dari Jogja, yup! Lahir dan besar di Jogja membuat saya merasakan ruh kota yang mulai pudar ini. Lulus SMA saya putuskan untuk keluar dari zona nyaman saya dan mencoba merantau ke Bogor. Kalo ditanya orang kenapa nggak kuliah di Jogja saja? selalu saya katakan bahwa saya bosan, saya ingin melihat sesuatu yang berbeda di luar sana.
Padahal tidak jauh dari rumah saya terdapat beberapa kampus yang cukup besar, jarak 500 meter dari rumah saya pun sudah ada akademi kesehatan dan universitas swasta yang laris mahasiswa dari luar daerah.
Setelah merantau kini saya bisa merasakan kekangenan saya pada kota kecil saya, menghirup aroma Jogja setiap turun dari kereta yang membawa saya pulang ke rumah :)
Menurut saya Jogja dan Bogor sama sama punya sesuatu, yaitu sama sama punya istana presiden hehe..
Naahh saya bertanggung jawab buat ngajak jalan temen saya inii, karena latar belakang dia ke Bogor adalah karena minggu depan pengen ikut saya ke Bandung. So saya putuskan untuk mengajaknya ke Monas dan Kota Tua Batavia
Kami berangkat dari stasiun Cilebut jam dua siang lebih. Berangkat dari Cilebut karena teman saya ini menginap ditempat saudaranya di Cilebut.
Tiba di stasiun Juanda jam tiga lebih, kemudian kami keluar dan naik jembatan penyebrangan, setelah itu menyusuri jalan di samping sungai menuju monas. Di sepanjang jalan itu banyak tempat makan, nggak sengaja liat Ragusa ice cream (Langsung nget pernah baca di inet katanya ni eskrim udah dari jaman belanda)
sesampainya di Monas, teman saya langsung ngajak balik -___- padahal kan uda jalan kaki jauuhh jauuhh malah langsung ngajak balik. Akhirnya kami mampir di ice cream Ragusaa,, dan karena hari minggu jadi tempatnya penuuuhh sesak dan terasa agak pengap, beda dengan yang digambarkan di artikel
Ada menu ice cream spagheti yang bikin mupeng, tapi kami hanya pesan chocolate sundae dan durian #maklum mahasiswa :))
Karena saking penuh tempatnya, akhirnya kami makan icecream seharga 20 ribu dan 17 ribu tadi di pinggir jalan, tapi kami tetap bahagia kog :))
Selesai makan eskrim kami jalan kembali ke Stasiun Juanda untuk menuju Kota tua. Sesampainya di stasiun ternyata ada gangguan KRL,, huhuuuu stelah menimbang nimbang, akhirnya kami putuskan untuk naik busway. Jujur saja saya nggak pengalaman naik busway, untungnya itu hari minggu jadi busway nggak penuh. sesampai di halte beli tiket ke Kota, masuk palang pintu tanya lagi, saya sampai tanya tiga kali karena nggak ngerti gimana jalur busway hhe
Ternyata kami disuruh turun halte harmoni dulu, naah dari situ kami naik lagi yang jurusan kota
.........ummmm lama kami mengamati denah transjakarta #tetep nggak ngerti
.........pindah tempat
.........ngamatin orang
.........tanya orang 'kalo mau ke harmony naik ini ya teh?' #ada bus datang 'iya' #langsung naik
Loh si teteh kog gak naik?!!
#udah di dalem bus
tanya ke petugas jaga pintu, a' ini ke harmony? 'bukan, ini ke grogol' "nggak lewat harmony?" "kalo mau ke Harmonny turun halte setelah ini aja, terus naik bus kuning kalo nggak abu" "hooo yaa,, maksiih a'"
Turun di halte selanjutnya,, kemudian kami naik bus kuning dan turun di halte Harmony
setelah menunggu hampir 20 menit, akhirnya kami naik bus gandheng dua menuju Kota :D, padahal kalau dari stasiun Juanda ke Kota naik KRL nggak ada 10 menit juga uda nyampe kota -.-
Yaaaa kota tua,, salah satu daya tarik Jakarta, kota tua ramai di sore hari apalagi hari sabtu minggu. Hari itu kota penuh dengan orang jualan dan pengunjung, selain itu juga ada penampilan seperti pantomim, patung yang bisa melayang, ondel-ondel, ataupun orang dengan kostum hantu, ada juga penampilan noni belanda. Ba'da maghrib kami duduk dipelataran Museum Fatahillah, sekedar bertukar kabar karena lama tidak bertemu. Setidaknya teman saya pernah menginjakkan kaki ke kota tua Jakarta :P
Jogja itu kota penuh pertunjukkan,, jadi jika hanya sekedar tempat seperti ini di Jogja juga ada #upss namun suasana kota tua tetap paling dapet di Batavia. Saya sendiri lebih suka ke pertunjukkan budaya dan seni, yang tidak bisa saya dapatkan jika di Bogor huhuhuuu
Hari selanjutnya kami berencana berkinjung ke Kebun Raya Bogor. Ini adalah ke tiga kalinya saya berkunjung ke Kebun Raya jadi lumayan nggak bingung kalo liat peta. Di Kebun Raya ada beberapa spot yang bisa dilihat selain pohon pohon tinggi besar dengan akar mencuat dari tanah, salah satu spot yang wajib anda kunjungi adalah Griya Anggrek, karena tempat itu cantik sekali dikala anggrek anggrek bermekaran. Ada juga cafe de Daunan, saya siih belum pernah masuk, terdapat padang rumput luas di depan cafe, nggak seluas padang rumput di Kebun Raya Cibodas sih, tapi cukuplah untuk menyegarkan mata. Setelah itu kami mencoba mencari jembatan gantung yang terhubung dengan Taman Meksiko.
Tiga kali ke Kebun Raya selama kurun waktu tiga setengah tahun, belum pernah sekalipun saya lihat bunga bangkai haha sediihh... pasti nggak pas dengan musim mekarnya. Googling dari internet, bunga rafflesia di kebun raya bogor mekar untuk pertama kalinya setelah 81 tahun itu tanggal 2 Juni 2010 dan mekar untuk yang ketujuh kalinya pada tanggal 2 Januari 2014 kemaren, sayang sekalii saya nggak tahu huhuuu, semoga tahun depan bisa lihat lah yaaa
Pukul 17.00 Kebun Raya tutup, karena kami agak kesorean jadi tidak sempat mengunjungi Museum Zoologi yang masih di dalam kawasan Kebun Raya. Selanjutnya kami mencari sesuatu untuk mengganjal perut, kebab! Kebab favorit saya ada di sebelah mall BTM, saya lupa nama kebabnya namun patut deh mencoba kebab super yang besarnya selengan orang dewasa. Kedai kebabnya buka di depan Bank BRI, di jalan turunan samping mall BTM kalau berniat mencari.
Kamis sore kami bertolak dari Bogor menuju Bandung. Kami menuju terminal Baranangsiang, di Baranangsiang sangat mudah mendapatkan bus menuju Bandung, Hampir setiap 30 menit sekali bus menuju Bandung tinggal landas. Setelah membeli asinan, kemudian kami naik bus. Perjalanan Bogor-Bandung dapat ditempuh selama 3 jam (normal), namun bisa mencapai 5 jam jika masuk musim liburan. Di tengah perjalanan kami melihat pelangi, saya rasa dimanapun pelangi akan selalu terlihat indah :)
Hampir empat jam perjalanan akhirnya kami sampai di Bandung, turun dari bus kemudian kami naik angkot menuju Kalappa dengan ongkos 4 ribu rupiah per orang, dan dilanjutkan naik Kallapa Dago dengan ongkos yang sama. Kami turun di samping kampus ITB. Yup!! kami ke Bandung mengunjungi kawan yang sedang menempuh gelar sarjananya di ITB.
Bandung memiliki daya tarik sendiri sebagai kota wisata, suasana yang sejuk, banyak wisata kuliner, wisata alam, dan wisata belanja mungkin adalah beberapa diantaranya.
Salah satu wisata belanja yang kami kunjungi adalah kawasan Gede Bage, pusat barang ekspor impor. Dengan uang 60 ribu saya bisa mendapatkan 5 potong barang, tergantung bagaimana kita melakukan tawar menawar. Bukan karena tidak mampu beli baru, namun terkadang baju bekas ini terlihat lebih fashionable dan tidak pasaran tentunya, tinggal bagaimana kita memilah saja :D. Oya disana juga banyak loh barang ber merk asli yang harganya super duper murah.
Pada akhirnya saya harus kembali ke Bogor dan teman saya pulang ke Jogja. Sampai jumpa lagi kawaaaan....
 |
| a gift |
Bogor 1 Juli 2014
Ketika enggan menoleh skripsi